Institut Agama Kristen Negeri Tarutung
Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

“Saya Menangis dan Ayah Saya Memeluk Saya”

Anak-anak di Perumahan Pagar Beringin, Pagar Batu, Sipoholon, menceritakan gempa pada 1 Oktober lalu itu dengan kalimat pembuka yang hampir sama: “Saat gempa, saya sedang tidur.” Gempa itu terjadi pukul 02:28 dini hari. Goncangan gempa bermagnitudo 6.0 itu terasa sangat kencang.

Shelo Mita Panggabean, kelas VI sekolah dasar, menuliskan kisahnya. “Saat itu saya sangat takut. Saya dan keluarga saya berlari. Saya memanggil nenek saya. Dan di situ mati lampu.” Shelo kemudian berteriak, “Oooo… Tuhan Yesus, suhul (gempa).” Malam itu juga mereka mendirikan tenda. Tidak lama berselang gempa susulan kembali datang. Hujan pun turun. Setelah gempa sudah reda, ayah Shelo pergi melihat rumah. “Piring pecah. Gelas pun banyak pecah,” tulis Shelo. Keesokan harinya Ia tidak pergi ke gereja karena masih takut.

Velicia Sibagariang, kelas V sekolah dasar, juga mengenang peristiwa dini hari itu. “Ibu saya pingsan,” tulisnya. “Saya menangis dan ayah saya memeluk saya,” lanjutnya. Mereka pun melewatkan malam dengan tidur di teras rumah.

Kisah anak-anak menghadapi gempa itu dituliskan sebagai bagian dari trauma healing yang dilakukan oleh Tim Trauma Healing Shalom IAKN Tarutung. Hari ini, Selasa (11/10/2022), Tim mendatangi anak-anak di Perumahan Pagar Beringin, Pagar Batu, Sipoholon. Kegiatan diadakan di GKPI Pagar Beringin. Rangkaian kata dalam tulisan mereka sudah mereka goreskan ketika rasa takut tidak sekuat saat gempa terjadi. Anak-anak itu sudah mengerti bahwa rasa takut adalah sesuatu yang wajar. “Sekarang saya tidak takut lagi karena saya masih dalam perlindungan Tuhan,” tulis Velicia. Bahkan Shelo menggoreskan ini di kertasnya, “Gempa itu adalah kejadian alam yang terjadi dengan sendirinya karena pergesekan lempeng tanah tektonik. Lempeng tanah yang di bawah bergeser, otomatis yang di atas bergetar.”

Sepanjang kegiatan, anak-anak bermain dengan gembira. Mereka tertawa sembari menari bersama mengiringi lagu. Mereka melingkar untuk mendengarkan mahasiswa memberikan panduan bermain games. Beberapa dari mereka pulang ke rumah membawa hadiah sebagai pemenang lomba bercerita dan lomba menggambar.