Institut Agama Kristen Negeri Tarutung
Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Pengukuhan Guru Besar IAKN Tarutung, Prof. Dr. Andar Gunawan Pasaribu, M. Pd. K.: “Pedagogi Hati: Memuliakan Allah Mengangkat Manusia”

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Tarutung, Prof. Dr. Andar Gunawan Pasaribu, M. Pd. K., dikukuhkan sebagai guru besar pada bidang Pendidikan Agama Kristen usai menyampaikan pidato pengukuhan guru besar berjudul Pedagogi Hati: Memuliakan Allah Mengangkat Manusia, Jumat (22/12), di Auditorium IAKN Tarutung, Silangkitang, Tapanuli Utara.

Andar Gunawan Pasaribu menyoroti pendidikan yang sudah dikepung oleh era disrupsi yang di dalamnya melekat artificial intelligence, dan era post-truth yang mengabaikan prinsip rasionalitas pengetahuan ilmiah. “Artificial intelligence dan era post-truth adalah keniscayaan. Demikian halnya dengan era disruptif. Era ini akan menghilangkan ratusan, bahkan ribuan, jenis pekerjaan. Era ini adalah era “mau tak mau, ya, harus mau””, ujar Andar Pasaribu. Menurut Andar, pendidikan gaya bank, istilah yang dicetuskan oleh Paulo Freire untuk mengkritik pendidikan yang antidialogis dan tidak demokratis, masih ditemukan di zaman sekarang justru saat pendidikan model hadap-masalah yang mesti diutamakan. “Pembelajaran sudah mengalami pergeseran. Ada hal-hal yang harus kita serahkan kepada teknologi, namun masih lebih banyak hal-hal yang harus digeluti oleh manusia. Lembaga pendidikan semestinya menyediakan kesempatan yang lebih luas kepada anak didik untuk meraih keterampilan dalam dunia nyata sesuai dengan preferensinya,” paparnya.

Menurut Andar proses belajar-mengajar di dunia pendidikan sudah harus meninggalkan lower-order thinking skilss. “Justru model berpikir inilah yang sudah diambil alih sempurna oleh teknologi, oleh mesin, oleh komputer. Dari menghafal hingga mengeksekusi sudah bisa dilakukan oleh komputer. Dari menyimpulkan hingga memberi contoh sudah bisa dikerjakan teknologi. Sementara itu, higher-order thinking skills, masih milik manusia. Setidaknya teknologi belum berhasil meyakinkan kita bahwa ia sanggup melahirkan gagasan, merancang sesuatu yang out of the box, menciptakan hal baru, atau mengkritik secara konstruktif,” ujarnya.

Perkembangan teknologi yang begitu cepat melesat mendatangkan rasa waswas. Andar Pasaribu mengutip data statistik tenaga kerja tahun 2018. “Rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia tahun 2017 adalah 8,5 tahun. Artinya, secara rata-rata hanya mampu sekolah sampai dengan jenjang menengah pertama. Postur tenaga kerja Indonesia hingga Februari 2018 masih didominasi oleh kalangan berpendidikan SMP ke bawah (75,99 juta orang/59,80% dari total tenaga kerja). Bandingkan dengan tenaga kerja berlatar pendidikan tinggi yang hanya berjumlah 15,21 juta (11,97%); dengan 3,50 juta orang berpendidikan diploma, dan 11, 71 juta berpendidikan universitas,” paparnya. “Di mana letak anak didik kita di hamparan era ini? Di mana pula posisi para pendidik?” tanya Andar.

Andar Gunawan Pasaribu menawarkan pendidikan berbasis pedagogi hati sebagai mitra dunia pendidikan menghadapi perkembangan teknologi. Pedagogi hati menurut Andar mendasarkan proses belajar-mengajar dengan menjadikan hubungan antara Allah, murid, dan guru adalah satu kesatuan. Andar mengkritisi taksonomi Bloom yang menempatkan higher-order thingking skills sebagai kemampuan tertinggi yang harus dimiliki oleh anak didik. “Pedagogi hati, yakni higher-order thinking spiritual berada di atas higher-order thingking skills. Pedagogi hati mencakup memuliakan Allah, mengangkat manusia, dan mengangkat ciptaan lain,” paparnya. Pedagogi hati, menurut Andar, menjadi sarana bagi anak didik membekali mereka menghadapi hidup. “Dengan pedagogi hati, kita mendidik dan mendampingi anak didik kita sejak hari pertama mereka berada di kampus ini hingga tiba waktunya mereka pergi membawa bekal, hanya demi masa depan mereka. Mereka akan membawa hal-hal yang didapat di kampus ke dunia luar, mengolahnya sedemikian rupa, membentuknya semaksimal mereka bisa, terbentur lalu terbentur lalu terbentur lagi untuk kemudian terbentuk,” tambahnya.

Rektor IAKN Tarutung, Prof. Dr. Albiner Siagian, M. Si, mengatakan, “Prof. Andar Gunawan Pasaribu adalah guru besar buha baju (anak sulung) IAKN Tarutung. Dia menjadi yang pertama di antara kolega-koleganya. Prof. Andar sudah manotas nambur (merintis), maka Ia adalah sitotas nambur (perintis),” ujarnya. Rektor berharap akan lahir guru besar-guru besar baru dari IAKN Tarutung.